Senin, 28 November 2011
Minggu, 27 November 2011
Sabtu, 26 November 2011
Jumat, 25 November 2011
50 Kebiasaan Orang Sukses
1. Carilah dan temukan kesempatan di mana orang lain saat orang lain gagal menemukannya.
2. Orang sukses melihat masalah sebagai bahan pembelajaran dan bukannya kesulitan belaka.
3. Fokus pada solusi, bukan berkubang pada masalah yang ada.
4. Menciptakan jalan suksesnya sendiri dengan pemikiran dan inovasi yang ada.
5. Orang sukses bisa merasa takut, namun mereka kemudian mengendalikan dan mengatasinya.
6. Mereka mengajukan pertanyaan yang tepat, sehingga menegaskan kualitas pikiran dan emosional yang positif.
7. Mereka jarang mengeluh.
8. Mereka tidak menyalahkan orang lain, namun mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka.
9. Mereka selalu menemukan cara untuk mengembangkan potensi mereka dan menggunakannya dengan efektif.
10. Mereka sibuk, produktif, dan proaktif, bukan luntang-lantung.
11. Mereka mau menyesuaikan diri dengan sifat dan pemikiran orang lain.
12. Mereka memiliki ambisi atau semangat.
13. Tahu benar apa yang diinginkan.
14. Mereka inovatif dan bukan plagiat.
15. Mereka tidak menunda-nunda apa yang ada.
16. Mereka memiliki prinsip bahwa hidup adalah proses belajar yang tiada henti.
17. Mereka tidak menganggap diri sempurna sehingga sudi belajar dari orang lain.
18. Mereka melakukan apa yang seharusnya, bukan apa yang mereka mau lakukan.
19. Mereka mau mengambil resiko, tapi bukan nekat.
20. Mereka menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan segera.
21. Mereka tidak menunggu datangnya keberuntungan, atau kesempatan. Merekalah yang menciptakannya.
22. Mereka bertindak bahkan sebelum disuruh atau diminta.
23. Mereka mampu mengendalikan emosi dan bersikap profesional.
24. Mereka adalah komunikator yang handal.
25. Mereka mempunyai rencana dan berusaha membuatnya menjadi kenyataan.
26. Mereka menjadi luar biasa karena mereka memilih untuk itu.
27. Mereka berhasil melalui masa-masa berat yang biasanya membuat orang lain menyerah.
28. Mereka tahu apa yang penting bagi mereka dan melakukan yang terbaik yang mereka bisa.
29. Mereka memiliki keseimbangan dan mengerti bahwa uang hanya alat, bukan segalanya.
30. Mereka paham betul pentingnya disiplin dan pengendalian diri.
31. Mereka merasa aman karena mereka tahu mereka berharga.
32. Mereka juga murah hati dan baik hati.
33. Mereka mau mengakui kesalahan dan tidak segan untuk minta maaf.
34. Mereka mau beradaptasi dengan perubahan.
35. Mereka menjaga kesehatan dan performa tubuh.
36. Mereka rajin.
37. Mereka Ulet.
38. Mereka terbuka dan mau menerima masukan dari orang lain.
39. Mereka tetap bahagia saat menghadapi pasang surut kehidupan.
40. Mereka tidak bergaul dengan orang-orang yang salah/ merusak.
41. Mereka tidak membuang waktu dan energi emosional untuk sesuatu yang di luar kendali mereka.
42. Mereka nyaman bekerja di tempat yang ada.
43. Mereka memasang standar yang tinggi bagi diri sendiri.
44. Mereka tidak mempertanyakan mengapa mereka gagal namun memetik pelajaran dari itu semua.
45. Mereka tahu bagaimana harus rileks, menikmati apa yang ada, dan mampu bersenang-senang dalam kecerobohan sekalipun.
46. Karir mereka bukanlah siapa mereka, itu hanyalah pekerjaan.
47. Mereka lebih tertarik pada apa yang efektif ketimbang pada apa yang mudah.
48. Mereka menyelesaikan apa yang telah mereka mulai.
49. Mereka menyadari bahwa mereka bukan hanya makhluk hidup belaka, namun juga makhluk rohani.
50. Mereka melakukan pada yang mereka katakan.
Sumber: http://juandry.blogspot.com/2009/12/50-kebiasaan-orang-sukses.html
2. Orang sukses melihat masalah sebagai bahan pembelajaran dan bukannya kesulitan belaka.
3. Fokus pada solusi, bukan berkubang pada masalah yang ada.
4. Menciptakan jalan suksesnya sendiri dengan pemikiran dan inovasi yang ada.
5. Orang sukses bisa merasa takut, namun mereka kemudian mengendalikan dan mengatasinya.
6. Mereka mengajukan pertanyaan yang tepat, sehingga menegaskan kualitas pikiran dan emosional yang positif.
7. Mereka jarang mengeluh.
8. Mereka tidak menyalahkan orang lain, namun mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka.
9. Mereka selalu menemukan cara untuk mengembangkan potensi mereka dan menggunakannya dengan efektif.
10. Mereka sibuk, produktif, dan proaktif, bukan luntang-lantung.
11. Mereka mau menyesuaikan diri dengan sifat dan pemikiran orang lain.
12. Mereka memiliki ambisi atau semangat.
13. Tahu benar apa yang diinginkan.
14. Mereka inovatif dan bukan plagiat.
15. Mereka tidak menunda-nunda apa yang ada.
16. Mereka memiliki prinsip bahwa hidup adalah proses belajar yang tiada henti.
17. Mereka tidak menganggap diri sempurna sehingga sudi belajar dari orang lain.
18. Mereka melakukan apa yang seharusnya, bukan apa yang mereka mau lakukan.
19. Mereka mau mengambil resiko, tapi bukan nekat.
20. Mereka menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan segera.
21. Mereka tidak menunggu datangnya keberuntungan, atau kesempatan. Merekalah yang menciptakannya.
22. Mereka bertindak bahkan sebelum disuruh atau diminta.
23. Mereka mampu mengendalikan emosi dan bersikap profesional.
24. Mereka adalah komunikator yang handal.
25. Mereka mempunyai rencana dan berusaha membuatnya menjadi kenyataan.
26. Mereka menjadi luar biasa karena mereka memilih untuk itu.
27. Mereka berhasil melalui masa-masa berat yang biasanya membuat orang lain menyerah.
28. Mereka tahu apa yang penting bagi mereka dan melakukan yang terbaik yang mereka bisa.
29. Mereka memiliki keseimbangan dan mengerti bahwa uang hanya alat, bukan segalanya.
30. Mereka paham betul pentingnya disiplin dan pengendalian diri.
31. Mereka merasa aman karena mereka tahu mereka berharga.
32. Mereka juga murah hati dan baik hati.
33. Mereka mau mengakui kesalahan dan tidak segan untuk minta maaf.
34. Mereka mau beradaptasi dengan perubahan.
35. Mereka menjaga kesehatan dan performa tubuh.
36. Mereka rajin.
37. Mereka Ulet.
38. Mereka terbuka dan mau menerima masukan dari orang lain.
39. Mereka tetap bahagia saat menghadapi pasang surut kehidupan.
40. Mereka tidak bergaul dengan orang-orang yang salah/ merusak.
41. Mereka tidak membuang waktu dan energi emosional untuk sesuatu yang di luar kendali mereka.
42. Mereka nyaman bekerja di tempat yang ada.
43. Mereka memasang standar yang tinggi bagi diri sendiri.
44. Mereka tidak mempertanyakan mengapa mereka gagal namun memetik pelajaran dari itu semua.
45. Mereka tahu bagaimana harus rileks, menikmati apa yang ada, dan mampu bersenang-senang dalam kecerobohan sekalipun.
46. Karir mereka bukanlah siapa mereka, itu hanyalah pekerjaan.
47. Mereka lebih tertarik pada apa yang efektif ketimbang pada apa yang mudah.
48. Mereka menyelesaikan apa yang telah mereka mulai.
49. Mereka menyadari bahwa mereka bukan hanya makhluk hidup belaka, namun juga makhluk rohani.
50. Mereka melakukan pada yang mereka katakan.
Sumber: http://juandry.blogspot.com/2009/12/50-kebiasaan-orang-sukses.html
Bahasa Tubuh Orang Berbohong
1. Menutup mulut. Orang berbohong akan secara refleks menutup mulutnya saat berbohong. Dengan tindakan ini orang tersebut berusaha menghentikan mulutnya untuk mengeluarkan kebohongan.
2. Menyentuh hidung. Ini adalah sebagai bentuk plesetan dari menutup mulut. Orang tersebut awalnya ingin menutup mulut, berhubung tidak ingin ketahuan, maka orang tersebut malah menyentuh hidungnya.
3. Selain itu, orang yang berbohong juga kadang memalingkan pandangan saat berkomunikasi.
4. Mata berkedip terlalu sering. Peningkatan kedipan mata ini sebagai bentuk rasa grogi dan gugup karena berbohong.
5. Menggaruk leher. Gerakan ini merupakan respon saraf-saraf di sekitar leher pada saat berbohong akan terasa gatal.
2. Menyentuh hidung. Ini adalah sebagai bentuk plesetan dari menutup mulut. Orang tersebut awalnya ingin menutup mulut, berhubung tidak ingin ketahuan, maka orang tersebut malah menyentuh hidungnya.
3. Selain itu, orang yang berbohong juga kadang memalingkan pandangan saat berkomunikasi.
4. Mata berkedip terlalu sering. Peningkatan kedipan mata ini sebagai bentuk rasa grogi dan gugup karena berbohong.
5. Menggaruk leher. Gerakan ini merupakan respon saraf-saraf di sekitar leher pada saat berbohong akan terasa gatal.
Kamis, 24 November 2011
Nak!
jauh jalan yang harus kau tempuh
mungkin samar bahakan mungkin gelap
tajam kerikil setiap saat menunggu
engkau lewat dengan kaki tak bersepatu
duduk sini nak! dekat pada bapak
jangan kau ganggu Ibumu
turunlah lekas dari pangkuannya
engkau lelaki kelak sendiri
mungkin samar bahakan mungkin gelap
tajam kerikil setiap saat menunggu
engkau lewat dengan kaki tak bersepatu
duduk sini nak! dekat pada bapak
jangan kau ganggu Ibumu
turunlah lekas dari pangkuannya
engkau lelaki kelak sendiri
Catatan di Sore Hari
jika rasa kita sama
aku yakin kita akan bersama
namun jika rasa kita berbeda
aku juga yakin lambat laun kita akan menjauh
cinta itu bukan milikku
juga bukan milikmu
tapi cinta itu milik kita
jika suatu saat nanti kita berpisah
aku juga harus yakin
bahwa kau bukan tulang rusukku
cinta itu bukan untuk merubah seseorang
harus ginilah jangan gitulah
karena jika dirubah
orang itu akan menjadi orang lain
bukan lagi menjadi dirinya sendiri
karena indikasi dari cinta itu
menerima bukan menuntut
aku yakin kita akan bersama
namun jika rasa kita berbeda
aku juga yakin lambat laun kita akan menjauh
cinta itu bukan milikku
juga bukan milikmu
tapi cinta itu milik kita
jika suatu saat nanti kita berpisah
aku juga harus yakin
bahwa kau bukan tulang rusukku
cinta itu bukan untuk merubah seseorang
harus ginilah jangan gitulah
karena jika dirubah
orang itu akan menjadi orang lain
bukan lagi menjadi dirinya sendiri
karena indikasi dari cinta itu
menerima bukan menuntut
Rabu, 23 November 2011
Jurus Penembak Jitu
1. kalo gebetan bilang:
"entar deh aku pikir-pikir dulu."
kamu bilang:
"boleh, tapi apa yang aku bilang tadi itu keluar dari perasaan lho."
2. kalo gebetan bilang:
"mmm.. kayanya kita mendingan temenan aja deh."
kamu bilang:
"yaahh..! temen aku udah banyak, sekarang aku butuh pacar."
3. kalo gebetan gagap
"aa..aa..aku..uu."
kamu bilang:
"sstt..kamu enggak usah ngomong apa-apa, aku udah tau kalo kamu pasti
4. kalo gebetan bilang:
"aku belum boleh pacaran sama ortu."
kamu bilang:
"tenang! aku enggak bakalan bilang sama ortu kamu kok."
5. kalo gebetan bilang:
"aku mau konsentrasi belajar, belum mau pacaran."
kamu bilang:
"aku juga! tapi aku pengen terus belajar sama kamu, kita bisa sama-sama
6. kalo gebetan bilang:
"aku udah punya cowok."
kamu bilang:
"tapi kamu masih punya lho kesempatan dapetin cowok yang lebih baik,
7. kalo gebetan:
"diem aja."
kamu bilang:
"diem berarti iya nih, kalo gitu berarti sekarang kita pacaran."
8. kalo gebetan bilang:
"kasih aku waktu ya."
kamu bilang:
"aku punya banyak waktu, tapi apa bedanya nanti dan sekarang kalo
9. kalo gebetan bilang:
"apa kamu serius."
kamu bilang:
"emang kamu denger ketawa."
10. kalo gebetan bilang:
"kamu kan sering gonta-ganti cewek, aku takut pacaran sama kamu."
kamu bilang:
"kapal aku telah banyak berlayar menjelajahi 5 benua dan 7 samudera, tapi
11. kalo gebetan bilang:
"aku gak suka sama kamu."
kamu bilang:
"yakin nih gak pengen nyoba dulu? seperti kata pepatah, kadang cinta itu
"entar deh aku pikir-pikir dulu."
kamu bilang:
"boleh, tapi apa yang aku bilang tadi itu keluar dari perasaan lho."
2. kalo gebetan bilang:
"mmm.. kayanya kita mendingan temenan aja deh."
kamu bilang:
"yaahh..! temen aku udah banyak, sekarang aku butuh pacar."
3. kalo gebetan gagap
"aa..aa..aku..uu."
kamu bilang:
"sstt..kamu enggak usah ngomong apa-apa, aku udah tau kalo kamu pasti
mau bilang iya."
4. kalo gebetan bilang:
"aku belum boleh pacaran sama ortu."
kamu bilang:
"tenang! aku enggak bakalan bilang sama ortu kamu kok."
5. kalo gebetan bilang:
"aku mau konsentrasi belajar, belum mau pacaran."
kamu bilang:
"aku juga! tapi aku pengen terus belajar sama kamu, kita bisa sama-sama
belajarkan."
6. kalo gebetan bilang:
"aku udah punya cowok."
kamu bilang:
"tapi kamu masih punya lho kesempatan dapetin cowok yang lebih baik,
contohnya aku."
7. kalo gebetan:
"diem aja."
kamu bilang:
"diem berarti iya nih, kalo gitu berarti sekarang kita pacaran."
8. kalo gebetan bilang:
"kasih aku waktu ya."
kamu bilang:
"aku punya banyak waktu, tapi apa bedanya nanti dan sekarang kalo
jawabannya sama."
9. kalo gebetan bilang:
"apa kamu serius."
kamu bilang:
"emang kamu denger ketawa."
10. kalo gebetan bilang:
"kamu kan sering gonta-ganti cewek, aku takut pacaran sama kamu."
kamu bilang:
"kapal aku telah banyak berlayar menjelajahi 5 benua dan 7 samudera, tapi
aku sadar kalo kamu adalah pelabuhan terakhirku."
11. kalo gebetan bilang:
"aku gak suka sama kamu."
kamu bilang:
"yakin nih gak pengen nyoba dulu? seperti kata pepatah, kadang cinta itu
awalnya dari benci lho, aku yakin dan janji akan selalu berusaha berubah
jadi seperti apa yang kamu suka."
jadi seperti apa yang kamu suka."
Curhatan Seorang Ibu
Sadarilah ini, beliau ga akan curhat langsung pada kita
Ini surat dari ibu yang tersayat hatinya. Linangan air mata bertetesan deras menyertai tersusunnya tulisan ini.
Aku lihat engkau lelaki yang gagah lagi matang. Bacalah surat ini. Dan kau boleh merobek-robeknya setelah itu, seperti saat engkau meremukkan kalbuku sebelumnya.
Sejak dokter mengabari tentang kehamilan, aku berbahagia. Ibu-ibu sangat memahami makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikis dan fisik. Sembilan bulan aku mengandungmu.
Seluruh aktivitas aku jalani dengan susah payah karena kandunganku. Meski begitu, tidak mengurangi kebahagiaanku. Kesengsaraan yang tiada hentinya, bahkan kematian kulihat didepan mataku saat aku melahirkanmu.
Jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan kami. Berikutnya, aku layaknya pelayan yang tidak pernah istirahat. Kepenatanku demi kesehatanmu. Kegelisahanku demi kebaikanmu.
Harapanku hanya ingin melihat senyum sehatmu dan permintaanmu kepada Ibu untuk membuatkan sesuatu.
Masa remaja pun engkau masuki. Kejantananmu semakin terlihat, Aku pun berikhtiar untuk mencarikan gadis yang akan mendampingi hidupmu. Kemudian tibalah saat engkau menikah. Hatiku sedih atas kepergianmu, namun aku tetap bahagia lantaran engkau menempuh hidup baru.
Seiring perjalanan waktu, aku merasa engkau bukan anakku yang dulu. Hak diriku telah terlupakan. Sudah sekian lama aku tidak bersua, meski melalui telepon. Ibu tidak menuntut macam-macam. Sebulan sekali, jadikanlah ibumu ini sebagai persinggahan, meski hanya beberapa menit saja untuk melihat anakku.
Ibu sekarang sudah sangat lemah. Punggung sudah membungkuk, gemetar sering melecut tubuh dan berbagai penyakit tak bosan-bosan singgah kepadaku. Ibu semakin susah melakukan gerakan.
Anakku…
Seandainya ada yang berbuat baik kepadamu, niscaya ibu akan berterima kasih kepadanya. Sementara Ibu telah sekian lama berbuat baik kepada dirimu. Manakah balasan dan terima kasihmu pada Ibu ? Apakah engkau sudah kehabisan rasa kasihmu pada Ibu ? Ibu bertanya-tanya, dosa apa yang menyebabkan dirimu enggan melihat dan mengunjungi Ibu ? Baiklah, anggap Ibu sebagai pembantu, mana upah Ibu selama ini ?
Anakku..
Ibu hanya ingin melihatmu saja. Lain tidak. Kapan hatimu memelas dan luluh untuk wanita tua yang sudah lemah ini dan dirundung kerinduan, sekaligus duka dan kesedihan ? Ibu tidak tega untuk mengadukan kondisi ini kepada Dzat yang di atas sana. Ibu juga tidak akan menularkan kepedihan ini kepada orang lain. Sebab, ini akan menyeretmu kepada kedurhakaan. Musibah dan hukuman pun akan menimpamu di dunia ini sebelum di akhirat. Ibu tidak akan sampai hati melakukannya,
Anakku…
Walaupun bagaimanapun engkau masih buah hatiku, bunga kehidupan dan cahaya diriku…
Anakku…
Perjalanan tahun akan menumbuhkan uban di kepalamu. Dan balasan berasal dari jenis amalan yang dikerjakan. Nantinya, engkau akan menulis surat kepada keturunanmu dengan linangan air mata seperti yang Ibu alami. Di sisi Allah, kelak akan berhimpun sekian banyak orang-orang yang menggugat.
Anakku..
Takutlah engkau kepada Allah karena kedurhakaanmu kepada Ibu. Sekalah air mataku, ringankanlah beban kesedihanku. Terserahlah kepadamu jika engkau ingin merobek-robek surat ini. Ketahuilah,
“Barangsiapa beramal shalih maka itu buat dirinya sendiri. Dan orang yang berbuat jelek, maka itu (juga) menjadi tanggungannya sendiri”.
Anakku…
Ingatlah saat engkau berada di perut ibu. Ingat pula saat persalinan yang sangat menegangkan. Ibu merasa dalam kondisi hidup atau mati. Darah persalinan, itulah nyawa Ibu. Ingatlah saat engkau menyusui. Ingatlah belaian sayang dan kelelahan Ibu saat engkau sakit. Ingatlah ….. Ingatlah…. Karena itu, Allah menegaskan dengan wasiat : “Wahai, Rabbku, sayangilah mereka berdua seperti mereka menyayangiku waktu aku kecil”.
anakku,,,… ibu sangat merindukanmu…
Ini surat dari ibu yang tersayat hatinya. Linangan air mata bertetesan deras menyertai tersusunnya tulisan ini.
Aku lihat engkau lelaki yang gagah lagi matang. Bacalah surat ini. Dan kau boleh merobek-robeknya setelah itu, seperti saat engkau meremukkan kalbuku sebelumnya.
Sejak dokter mengabari tentang kehamilan, aku berbahagia. Ibu-ibu sangat memahami makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikis dan fisik. Sembilan bulan aku mengandungmu.
Seluruh aktivitas aku jalani dengan susah payah karena kandunganku. Meski begitu, tidak mengurangi kebahagiaanku. Kesengsaraan yang tiada hentinya, bahkan kematian kulihat didepan mataku saat aku melahirkanmu.
Jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan kami. Berikutnya, aku layaknya pelayan yang tidak pernah istirahat. Kepenatanku demi kesehatanmu. Kegelisahanku demi kebaikanmu.
Harapanku hanya ingin melihat senyum sehatmu dan permintaanmu kepada Ibu untuk membuatkan sesuatu.
Masa remaja pun engkau masuki. Kejantananmu semakin terlihat, Aku pun berikhtiar untuk mencarikan gadis yang akan mendampingi hidupmu. Kemudian tibalah saat engkau menikah. Hatiku sedih atas kepergianmu, namun aku tetap bahagia lantaran engkau menempuh hidup baru.
Seiring perjalanan waktu, aku merasa engkau bukan anakku yang dulu. Hak diriku telah terlupakan. Sudah sekian lama aku tidak bersua, meski melalui telepon. Ibu tidak menuntut macam-macam. Sebulan sekali, jadikanlah ibumu ini sebagai persinggahan, meski hanya beberapa menit saja untuk melihat anakku.
Ibu sekarang sudah sangat lemah. Punggung sudah membungkuk, gemetar sering melecut tubuh dan berbagai penyakit tak bosan-bosan singgah kepadaku. Ibu semakin susah melakukan gerakan.
Anakku…
Seandainya ada yang berbuat baik kepadamu, niscaya ibu akan berterima kasih kepadanya. Sementara Ibu telah sekian lama berbuat baik kepada dirimu. Manakah balasan dan terima kasihmu pada Ibu ? Apakah engkau sudah kehabisan rasa kasihmu pada Ibu ? Ibu bertanya-tanya, dosa apa yang menyebabkan dirimu enggan melihat dan mengunjungi Ibu ? Baiklah, anggap Ibu sebagai pembantu, mana upah Ibu selama ini ?
Anakku..
Ibu hanya ingin melihatmu saja. Lain tidak. Kapan hatimu memelas dan luluh untuk wanita tua yang sudah lemah ini dan dirundung kerinduan, sekaligus duka dan kesedihan ? Ibu tidak tega untuk mengadukan kondisi ini kepada Dzat yang di atas sana. Ibu juga tidak akan menularkan kepedihan ini kepada orang lain. Sebab, ini akan menyeretmu kepada kedurhakaan. Musibah dan hukuman pun akan menimpamu di dunia ini sebelum di akhirat. Ibu tidak akan sampai hati melakukannya,
Anakku…
Walaupun bagaimanapun engkau masih buah hatiku, bunga kehidupan dan cahaya diriku…
Anakku…
Perjalanan tahun akan menumbuhkan uban di kepalamu. Dan balasan berasal dari jenis amalan yang dikerjakan. Nantinya, engkau akan menulis surat kepada keturunanmu dengan linangan air mata seperti yang Ibu alami. Di sisi Allah, kelak akan berhimpun sekian banyak orang-orang yang menggugat.
Anakku..
Takutlah engkau kepada Allah karena kedurhakaanmu kepada Ibu. Sekalah air mataku, ringankanlah beban kesedihanku. Terserahlah kepadamu jika engkau ingin merobek-robek surat ini. Ketahuilah,
“Barangsiapa beramal shalih maka itu buat dirinya sendiri. Dan orang yang berbuat jelek, maka itu (juga) menjadi tanggungannya sendiri”.
Anakku…
Ingatlah saat engkau berada di perut ibu. Ingat pula saat persalinan yang sangat menegangkan. Ibu merasa dalam kondisi hidup atau mati. Darah persalinan, itulah nyawa Ibu. Ingatlah saat engkau menyusui. Ingatlah belaian sayang dan kelelahan Ibu saat engkau sakit. Ingatlah ….. Ingatlah…. Karena itu, Allah menegaskan dengan wasiat : “Wahai, Rabbku, sayangilah mereka berdua seperti mereka menyayangiku waktu aku kecil”.
anakku,,,… ibu sangat merindukanmu…
Langganan:
Postingan (Atom)
